mesaya777 posted: " Rating: R-18+, harap bijaksana untuk kandungan tema yang dibahas Ji Hyuk mengajak Ru Da makan malam bersama. Ru Da mencoba mengelak, tapi Ji Hyuk mengingatkan kalau ini adalah hari ulang tahunnya. Berita menyiarkan telah terjadi penculikan, di "
Rating: R-18+, harap bijaksana untuk kandungan tema yang dibahas
Ji Hyuk mengajak Ru Da makan malam bersama. Ru Da mencoba mengelak, tapi Ji Hyuk mengingatkan kalau ini adalah hari ulang tahunnya.
Berita menyiarkan telah terjadi penculikan, di mana korban wanita membawa tas putih dengan hiasan merah muda. Polisi mencurigai Yong Sik yang membawa tas putih dan mengenakan sneaker merah muda. Kecurigaan semakin dalam saat melihat isi tas Yong Sik yang berwarna merah muda semua. Yong Sik melangkah mundur dan mengambil langkah seribu.
Polisi menggedor pintu kamar Yong Sik dan meminta bantuan. Mereka yakin telah menemukan si penculik.
Ru Da sampai di tempat kemah bersama Ji Hyuk. Ji Hyuk ingat kalau Ru Da lebih memilih makan ramen daripada makan di restoran mewah. Sementara, Ru Da tersenyum memegang bungkus ramen, yang ia ingat adalah malam sebelumnya bersama Yong Sik.
Para tetangga dan wartawan mulai berkumpul di depan apartmen. Mereka menggosipkan Yong Sik yang pengangguran dan penyendiri. Sementara Yong Sik panik dan ketakutan di dalam kamar. Ia mulai mencari sapu tangan merah muda Suara tetangga yang terus menghujatnya menghujam keras ke dalam kamar. Sapu tangan merah muda tidak lagi memberinya rasa tenang yang ia butuhkan.
Waktu Ji Hyuk memasak ramen, Ru Da memeriksa internet. Ia melihat berita dan gambar penculikan, tahu kalau Yong Sik menjadi tersangka utama. Ru Da beranjak pergi. Ji Hyuk melarang, tapi Ru Da khawatir dengan kondisi mental Yong Sik. Ji Hyuk mencoba menggunakan alasan tangannya yang terluka, Ru Da meminta maaf dan pergi.
Di dalam kamar, Yong Sik seolah melihat sosok Ru Da menyuruhnya berdiri dan menghadapi semua itu. Sedikit demi sedikit bayangan dan nasehat Ru Da membangkitkan keberanian dalam dirinya. Yong Sik meletakkan sapu tangan dan berdiri.
Ia membuka pintu dan berjalan keluar. Terjadilah kegaduhan. Polisi berlari ke dalam kamarnya, wartawan berlomba memotret dirinya. Dengan pelan, Yong Sik mengakui kalau tas dan isinya adalah miliknya. Ia menyukai warna merah muda, apakah ada yang salah dengan hal itu?
Ia memang pengangguran, dan ia sering telat membayar sewa, tapi apakah hal itu kuat untuk menuduhnya sebagai penculik? Si ibu yang bersuara keras hanya bisa berpaling. Ru Da, yang sudah sampai di situ, memperhatikan dengan lekat.
Seorang polisi lain datang berlari memberi tahukan kalau si penculik sudah ditangkap dan benar-benar tidak ada orang di kamar Yong Sik. Yong Sik mengakui rasa takut dihakimi seperti inilah yang membuatnya bersembunyi, meski ia tak bersalah.
Yong Sik berjalan menghampiri Ru Da. Ia jatuh berjongkok. Ru Da menunduk dan memegang tangan Yong Sik, mengajaknya pergi. Mereka berjalan di tepi sungai lalu duduk berdampingan.
Yong Sik mengaku merasa seperti pahlawan, karena ia berhasil melakukan apa yang ia anggap mustahil. Ia berani berdiri menghadapi orang-orang yang menghujatnya. Tapi, ia bukan pahlawan karena ia tidak menyelamatkan orang. Ru Da membantah, dulu, Yong Sik lah yang menyelamatkan nyawanya.
Ru Da memuji keberanian Yong Sik, ia telah melewati hari ini dengan baik. Mereka bertatapan lama. Yong Sik mendekatkan diri pada Ru Da, menciumnya dengan lembut. Mereka melanjutkannya ke kamar.
Bersambung
Komentar aku: menahan ketawa, karena waktu di dalam kamar Yong Sik ketakutan, background sound adalah lagu Josh Groban You Raise Me Up. Omona, sampai kapan pun lagu You Raise Me Up akan punya konotasi lain…
Oh, kalau dalam kondisi seperti itu, boleh tidak sich menuntut polisi karena sudah menuduh tanpa bukti kuat + pencemaran nama baik? Bukannya kalau mau merangsek rumah seseorang harus dengan surat perintah pengadilan/hakim? Grrrr… Drama ini benar-benar mengocok emosi ya. Good job!
No comments:
Post a Comment